Jakarta, 3 Oktober 2020

Sumber: Kementerian Keuangan

Penyaluran bantuan sosial (ban­sos) ke masyarakat mesti diperluas agar lebih optimal menahan kemerosotan daya beli aki­bat dampak pandemi Covid-19. Pembenahan itu bisa mengenai mekanisme penyalurannya maupun sasaran dari bantuan itu sendiri.

Pentingnya membenahi distribusi bantuan sosial karena dari sekitar 700 triliun rupiah sti­mulus yang disiapkan pemerintah untuk pena­nganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Na­sional (PEN), sudah terealisasi 40 persen lebih, namun belum mampu mengangkat daya beli masyarakat.

Menurut Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, realisasi penyaluran anggaran Pemu­lihan Ekonomi Nasional (PEN) hingga 28 Sep­tember 2020 sudah mencapai mencapai 304,63 triliun rupiah atau 43,8 persen dari pagu 695,2 triliun rupiah. Per 1 Oktober, realisasinya sudah mencapai 316,32 triliun rupiah atau 45,5 persen.

Menanggapi kondisi kian merosotnya daya beli masyarakat, pakar kebijakan publik dari Universitas Brawijaya (UB) Malang, Andy Fefta Wijaya, mengatakan penyaluran dana bantuan sosial harus dibenahi dan dipertajam penyalur­annya serta sasaran yang dituju agar upaya pe­merintah menggerakkan ekonomi bisa tercapai.

“Distribusi bantuan ini perlu memperhati­kan yang dituju, harus tepat sasaran agar tuju­annya menggerakkan roda ekonomi tercapai. Pemerintah harus memperhatikan masalah data, karena yang dipakai adalah data kemis­kinan Kemensos selama ini,” kata Andy.

Data tersebut, jelasnya, tidak memasukkan pekerja-pekerja yang kehilangan pekerjaan ka­rena perusahaannya tutup. Mereka sebelum­nya memiliki pendapatan, kini tidak punya penghasilan lagi.

Demikian juga dengan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan sektor informal banyak yang gulung tikar. Sebelumnya masih banyak tidak masuk dalam data kementerian terkait. Selain itu, pemerintah, katanya, harus memperhatikan faktor skala prioritas dalam penyalurannya. “Dana yang ada seharusnya di­prioritaskan untuk masyarakat yang tidak pu­nya penghasilan,” kata Andy.

Seperti diketahui, daya beli masyarakat yang semakin merosot terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat deflasi beruntun dalam tiga bulan terakhir sejak Juli hingga Sep­tember 2020 atau pertama kalinya dalam 21 ta­hun terakhir sejak September 1999.

Ekonom dari Core Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan dari beragam bantuan yang disalurkan pemerintah masih dominan menyasar kelompok pendapatan bawah (ma­syarakat miskin), padahal dampak juga dira­sakan kelompok pendapatan menengah yang jumlahnya sekitar 70 juta lebih. Mereka sela­ma ini hanya mendapat bantuan melalui kartu prakerja dan subsidi gaji. Kartu Prakerja sendiri cuma ditargetkan diterima 5,3 juta dari sekitar 30 juta pendaftar. “Perlu diperluas karena prak­tis kelompok menengah banyak yang kehilang­an pendapatan,” kata Yusuf.

Akurasi Data

Secara terpisah, Manajer Riset Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Seknas Fitra), Badiul Hadi, mengata­kan skema bantuan sosial perlu dipertajan un­tuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

“Skema bantuan sosial khususnya bantuan langsung tunai tidak diarahkan dengan baik, sehingga banyak penggunaannya tidak sesuai yang diharapkan pemerintah,” kata Badiul.

Bantuan sosial yang dikucurkan oleh pemerin­tah guna mendorong daya beli masyarakat juga belum sepenuhnya dapat menutupi kebutuhan masyarakat di tengah pandemi Covid-19.

Pemerintah, jelasnya, harus mengevaluasi secara menyeluruh pelaksanaan bantuan so­sial, mulai dari penerima bantuan dan besaran bantuan yang diberikan. Bukan rahasia lagi, se­jak awal problem bansos adalah akurasi data.

Besaran bantuan dengan nominal 300–600 ribu rupiah per bulan juga, katanya, sulit diha­rapkan bisa berdampak signifikan karena ra­ta-rata keluarga penerima manfaat (kpm) ban­tuan antara 3–4 orang per kpm.

Sementara itu, Ekonom Universitas Dipo­negoro (Undip), Eshter Sri Astuti, mengatakan bantuan sosial nilainya tidak seberapa sehingga tidak mampu mengangkat daya beli masyarakat.
Sumber: http://www.koran-jakarta.com/sasaran-penerima-bansos-mesti-diperluas/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *