Peringatan Hari Nelayan Nasional yang jatuh pada 6 April 2020 lalu terasa hambar. Tiada hingarbingar dan tradisi larung yang biasa dilakukan nelayan sebagai bentuk syukur. Kondisi ini tidak lepas dari merebaknya virus corona (Covid-19) yang menerpa seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali nelayan dan pembudidaya. Berdasarkan hasil identifikasi yang dilakukan oleh Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) baru-baru ini, sektor kelautan dan perikanan mengalami dampak cukup parah. Harga ikan di semua wilayah pesisir mengalami penurunan signifikan, terutama jenis ikan yang menjadi komoditas ekspor.

Penjualan hasil tangkapan juga terkendala karena banyak pengepul ikan tidak melayani atau membatasi pembelian ikan hasil tangkapan nelayan dan pembudidaya. Hal ini diperparah dengan masalah klasik yang tidak pernah tuntas ditangani, yakni kelangkaan BBM dan kalaupun tersedia harganya sudah melambung. Sudah tentu kondisi ini semakin mempersulit nelayan untuk tetap melaut sehingga mengurangi pendapatan nelayan. Kondisi lapangan tersebut terkonfirmasi oleh data-data yang dikeluarkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Perkembangan kesejahteraan nelayan danpembudidaya ikan mengalami tren menurun dalam tiga bulan terakhir.

Pada Januari 2020, Nilai Tukar Nelayan dan Pembudidaya Ikan (NTNP) tercatat 101,31 persen, turun sebesar -0,11 persen dibanding NTNP Desember 2019 yang angkanya di 101,42 persen. Penurunan kembali terjadi pada Februari tahun ini di mana NTNP tercatat sebesar 100,65 persen.

Penulis:
Misbah Hasan

Dukungan:
International Budget Partnership

Tahun:
2020